Sistem Inventory Gudang, Master Data Material

Berikut beberapa penjelasan bisnis proses tentang sistem inventory Gudang yang pernah saya tangani, untuk diketahui saya dulu terlibat implementasi program baru di sebuah perusahaan otomotif terbesar di Indonesia : Read the rest of this entry »

Manufakturing Offshore

Kali ini pengen cerita - cerita tentang sistem manufaktur dan assembly, kebetulan saya bekerja di Perusahaan manufaktur (lebih tepatnya konstruksi) bangunan offshore terbesar di Dunia dari amrik. Mengingat posisi saya sekarang sebagai admin aplikasi pengukur produktifitas proyek. Sehingga sedikit banyak mengetahui dan sedikit berkecimpung di dalamnya.

Produk kami hasilkan adalah sebuah bangunan offshore(sistem pengeboran dan penyedotan migas di tengah laut), seperti gambar di atas, yang akan dipasang di laut.

Kalau anda belum tau, proses untuk menghasilkan ini sangat panjang, dan berlansung berdasar prosedur yang ketat. Pembangunan sebuah deck (offshore) lebih kurang dikerjakan hampir 2 tahun.

Sistem manufaktur yang terjadi adalah sebuah berikut :

a. Perencanaan, ini adalah proses yang agak rumit, merencanakan aktifitas-aktfitas yang akan dilakukan dan diarrange berapa jumlah orang dan jumlah jam kerja untuk melakukan aktifitas tersebut. Ilmu perkiraan dan data statistik sangat banyak digunakan di tahap ini.

Seorang planner (perencana) harus konsen pada pergerakan progress aktual dengan progress plan. Sehingga nantinya pekerjaan dan aktifitas selesai sesuai dengan jadwal. Karena tepat waktu atau bahkan lebih cepat dari jadwal adalah sebuah prestasi di mata Client kami. Setiap akhir pekan, kita melakukan monitoring progress secara berkala.

b. Drawing

Sebuah gambar engineering diproduce dari drawing engineering company, biasanya ini ditentukan oleh client, kita menerima dalam bentuk matang dan dipecah2 sesuai dengan kebutuhan. Dan setalah disetujui oleh client dokumen ini akan didistribusikan ke bagian shop sebagai dasar pengerjaan.

Sistem revisi atau perubahan menjadi masalah di dalam tahap ini. Karena barang yang diolah adalah barang yang solid, seperti besi-besi, pipa-pipa dengan semua ukuran.  Sehingga cukup kerepotan jika barang sudah diolah, tetapi datang revisi untuk merubah bentuk pipa. Kejadian ini akan menambah jam kerja dan mengurangi produktifitas.

c. Procurement

Proses ini juga menentukan, banyak kasus yang terjadi di tahap ini. Karena tidak semua barang yang kita cari pasti ada, sehingga vendor-vendor dari segala penjuru dunia. Kadang2 barang itu hanya diproduksi hanya oleh 1 perusahaan saja di dunia ini. Strategi pengadaan dan pemilihan barang  yang bagus dan menekan biaya pembelian adalah sesuatu keputusan yang baik.

d. Fabrikasi

Setelah barang datang dan available, barang2 tadi siap untuk diolah sesuai dengan gambar dan rencana yang dibuat.  Product yang dibuat berupa bagian2 yang nantinya akan disambung2kan kembali di tahap berikutnya. Fabrikasi ini mempunyai tahapan2 proses. Misalkan pada fabrikasi pipa, kebutuhan pipa bisa dibentuk lengkung, sambungan, melingkar atau apapun bentuk sesuai dengan gambar model.

Karena proses ini melibatkan besi dan sambungan, sehingga bahaya jika sebuah las (weld) antar pipa tidak erat. Oleh karena itu perlu proses NDT untuk memeriksa apakah kualitas weld bagus atau tidak.

Proses fabrikasi inilah yang dihitung produkstifitasnya, kami komit untuk melakukan fabrikasi sesuai dengan pesanan dan sebaik kualitas yang telah ditentukan client.

Produk fabrikasi yang sudah selesai akan menjadi bahan baku pada proses Installasi.

e. Installasi

Begitu juga proses installisasi ini, proses ini mempunyai beberapa tahapan untuk memasang bagian2 yang terpisah2 hasil dari fabrikasi. Untuk menyambung satu dengan yang lain juga membutuhkan pengelasan antar pipa2. Proses ini dipisah2kan menjadi beberapa proses, sehingga pekerjaan bisa diatur dan dimanage.

Produktifitas setiap proses di installisasi ini dihitung juga berdasarkan aktual berapa proses yang sudah selesai pada sebuah produk.

f. Offshore

Setelah bangunan yang dipasang dionshore sudah siap, bangunan dikirim dengan sebuah kapal pengangkut deck ke tengah laut. Banyak teknik pemasangan deck ini, yang terbaru adalah pemasangan langsung dari kapal, sehingga memakan waktu yang singkat.

Jawapos, Konversi Koran ke PDF

Jawapos, koran harian nasional dari Surabaya, telah meluncurkan website koran edisi PDF. Konsep ini merupakan ide dan inovasi yang pertama di dunia, mempublish hard paper(koran kertas) ke softpaper (PDF) dan ditayangkan di website. Ini sungguh terobosan yang bagus dan patut diikuti oleh media massa nasional.

Untuk dapat melihat koran versi PDF coba anda klik di link ini ,http://versipdf.jawapos.co.id/ , disediakan halaman - halaman sesuai dengan koran edisi kertas. Sungguh pemikiran yang brilliant.  Sehingga bagi orang yang tidak sempat beli atau langganan koran Jawapos masih bisa membaca dan menikmati berita seperti kita beli koran berupa kertas.

Secara programming, program ini menggunakan PHP dan sebuah database. Dan hanya menggunakan simple javascript berikut adalah potongan program load gambar dan file PDF:

function loadGbrJP(nGbr,encVar){
	document.images.imgjp.src="jpimg/hal-"+nGbr+".jpg";
	document.getElementById('linkJP').href="index.php?detail=jp_det&file_det="+encVar;
}
function loadGbrOR(nGbr,encVar){
	document.images.imgor.src="orimg/hal-"+nGbr+".jpg";
	document.getElementById('linkOR').href="index.php?detail=or_det&file_det="+encVar;
}
function loadGbrMT(nGbr,encVar){
	document.images.imgmt.src="mtimg/hal-"+nGbr+".jpg";
	document.getElementById('linkMT').href="index.php?detail=mt_det&file_det="+encVar;
}

Sedangkan untuk eksekusinya setiap halaman dengan menggunakan :

onclick=loadGbrJP(1,'00241260')
onclick=loadGbrOR(1,'00241260')
onclick=loadGbrMT(1,'00241260')

Sehingga di dalam file index.php disediakan sebuah operasi select ke database, untuk bisa mendapatkan file binary atau path yang disimpan.

Rugi dong jawapos, pelanggannya pada lari ke warnet jadinya :)

Tapi sistem ini masih mempunyai kelemahan yang mendasar, berikut beberapa usul membangun dari saya :

  1. History berita, baik di versi PDF maupun web portal, jawapos masih belom menyediakan histore back date. sehingga berita cuma pada hari itu saja, ini menimbulkan kesan “pelit” sharing. Tapi secara bisnis mungkin beda lagi.
  2. Navigasi kurang menarik, sehingga user kurang leluasa.
  3. Resolusi dpi PDF kadang2 kurang baik (terlalu kecil), sehingga tulisan maupun gambar kurang jelas.

Aplikasi Rekap Airport Tax/Penumpang Pesawat di Bandara

Awal Januari ini saya dan istri pergi ke Bukit Tinggi untuk keperluan keluarga, soalnya ada ponakan yang nikah, Tapi saya nggak mau bercerita tentang nikahnya ponakan saya, tapi pengen membahas sebuah software di Bandara Minangkabau Padang yang tergolong “baru” dan mungkin masih satu-satunya program yang dipakai di Bandara se-Indonesia.

A. Software Pembayaran Airport Tax

Secara umum, pembayaran Airport tax di bandara kota2 besar seperti Jakarta,  Surabaya diberikan sebuah stiker ketika penumpang melakukan check in di loket maskapai. Dan tanda terima berupa stiker yang ditempelkan di boarding pass penumpang.

Tetapi ini beda, Bandara minangkabau menyediakan sebuah loket yang dijaga oleh petugas bandara, setiap kali penumpang mau masuk ruang tunggu harus membayar terlebih dahulu di loket.Setelah penumpang bayar, dia akan memberikan sebuah tanda terima sebuah kertas kecil yang ada tanda ID berupa barcode.

Sehingga bisa dianalisa di samping irit biaya stiker dan kertas,   program ini mencerminkan manajemen yang bagus dan akuntabilitas keuangan yang tertata. Pelaporan atas pendapatan aktual harus sesuai dengan jumlah pendapatan yang ada di sistem.

Berbeda dengan sistem stiker,  akuntabilitas dan pelaporan masih bisa diragukan kebenarannya. Monitoring juga tidak ketat atas uang yang masuk dan yang keluar.

Mengingat pendapatan pada sektor ini saja bisa menyumbang pada APBD sebesar 5 - 10 Milyar setahun. Luar biasa, kalau tidak dimonitoring dengan baik, wah bisa menjadi bancaan para koruptor bandara.(semoga tidak)
B. Software Scan Kedatangan Penumpang di Ruang Tunggu Bandara

Sebenernya pertama kali ngelihat, lucu juga ngelihat aplikasi ini. Kesan proyek mengada-ada sungguh kelihatan,  soalnya program ini sepertinya dipaksakan, dan manfaatnya kurang terlihat.

Manfaatnya mungkin cuma memeriksa apakah penumpang yang akan masuk sudah bayar airport tax apa belum, soalnya setiap penumpang diharuskan melakukan scan barcode airport tax receive  ke dalam sebuah alat scan, jika program tidak mengenali atau petugas yang memeriksa mengetahui penumpang tidak punya airport tax receive, dia akan menolak penumpang itu.

Tapi secara unik, bolehlah. Saya seneng sesuatu yang unik. Tapi mind set menghambur2kan duit ini yang harus dibasmi.

Jaringan Pair to Pair pakek Cellular Network

Dikutip dari milis informatika-ITS

Firdaus Efendi bertanya

Teman-teman sebenarnya P2P dengan memanfaatkan seluler itu mungkin
gak sih? Ini ceritanya di pedesaan, jadi titik pertama (puskesmas
induk ada PSTN) tapi titik kedua (puskesmas pembantu) gak ada PSTN.
Kalo dua2nya ada PSTN kan bisa titik 1 dial ke titik 2 pake modem
serial. Nah berhubung gak ada, pinginnya bisa memanfaatkan modem
GSM. Kalo ada yang pernah, kasih tau ya?

Kalo memang belum ada, kayaknya asik juga buat TA.

Jarak 2 titik itu sekitar 2km. Sebenarnya praktis pake wireless,
tapi setelah saya hitung biayanya sekitar 6jt, untuk 2 buah AP dan 2
buah antena grid. Segitu masih terlalu mahal untuk puskesmas. Lebih
milih bayar tagihan HP, apalagi setelah ada yang Rp.1/menit itu.
Koneksinya cuma 1 jam/hari untuk entri data kunjungan. Jadi cuma
Rp.60/hari = Rp.1500/bulan (25hari).

Atau ada yang bisa ngasih solusi lain?

===

Seno menjawab

Aku pernah nyobak mas. Catatan yang bisa diambil dari cobak-cobak itu
adalah : tidak semua modem (software modem) yang disediakan oleh
pabrik hand-phone yang support dial-in connection. Yang saya coba
waktu itu beberapa type hp merk Siemens, Phillips dan Nokia, ada
beberapa di antaranya yang support dial-in.

Berikut catatan berikutnya :
a. PSTN - GSM connection, kecepatan max 9600 bps
b. GSM - GSM, kecepatan max 19200 bps
c. GSM - GSM lewat GPRS, kecepatan max > 19200 bps (sorry lupa tepatnya)

Ada GSM modul yang dijual di pasaran (bukan HP) yang support dial-in
(dan support GPRS) juga, namun sayangnya tidak ada di Indonesia; dulu
aku sempat beli 1 pasang ke pabriknya untuk coba-coba; cukup canggih
juga, pemrogramannya dengan java.

Sebenarnya ada beberapa pilihan model, dua di antaranya adalah
1. dengan komunikasi serial
2. melengkapi dengan network layer (contoh IP)

Dengan model nomor 2, aplikasi lebih mudah didevelop, karena kita
sudah tidak mikirin lagi protocol komunikasinya; tinggal pilih saja
apakah kita mau jaminan bahwa data yang dikirim nyampe atau tidak.
Namun sayangnya, pilihan GSM-GSM menyebabkan bandwidthnya terbatas.
Ndak cuma itu, latency-nya juga tinggi. Nah, kalau mengandalkan
built-in network layer seperti IP maka pipa datanya akan tidak cukup.

Maka pilihannya tinggal dengan komunikasi serial. Saya dulu pernah
implementasi dengan model kirim-kiriman binary file, dengan protocol
Z-modem. Performancenya cukup bagus

Tekniknya begini :
1. cari HP dengan kabel data (biasanya dengan USB)
2. hubungkan HP tersebut dengan komputer
3. cari tahu dia terhubung dengan COM berapa, biasanya COM5 atau COM7.
Kalau di windows, ada settingnya di registry
4. coba buka terminal serial (di windows: hyperterminal)
5. coba pakai 9600bps 8N1, tekan ENTER
kalau ada respon teks banyak, maka HP tersebut mempunyai modem built-in
6. kalau diem saja; kirimkan text AT lalu enter
kalau modemnya merespon, jawabannya pasti OK; kalau keluar teks
aneh-aneh, adjust bandwidth kalau connect lagi
7. kalau mau dial ke nomor tertentu, tinggal ATDTnomortelp, mis ATDT103
8. kalau mau dial-in kirim perintah ATS0=1

source-code protocol Z-modem banyak ada di open source. Dulu dapet
dengan bahasa C

Mas Des, terus semangat !!!, bongkar-bongkar low-level ini sangat
penting. Suatu saat high-tech harus mau turun sampai level tersebut
untuk bisa membawa value untuk “the bottom of the pyramid (BOP)” -
Baca The fortune of the bottom of the pyramid karangan C.K. Prahalad
(http://en.wikipedia.org/wiki/Bottom_of_the_Pyramid)